unggah-ungguh, tata krama, sopan-santun, peserta didik, guru, mutiara yang hilang

Mutiara yang hilang di tengah pro-kontra kurikulum perekat bangsa

Oleh Nur Endah Puspita Arum

 

“Adisumarto menyatakan bahwa “unggah-ungguh bahasa Jawa adalah adat sopan santun, etika, tatasusila, dan tata krama berbahasa Jawa.” Berdasarkan pengertian tersebut nampak bahwa unggah-ungguh bahasa Jawa atau sering disebut tingkat tutur atau undha usuk basa tidak hanya terbatas pada tingkat kesopanan bertutur (bahasa Jawa ragam krama dan ngoko) saja, namun di dalamnya juga terdapat konsep sopan santun bertingkah laku atau bersikap. “[1])

 

 

“Tragis bukan main kisahnya jika tidak hanya didengar tapi benar-benar dirasakan. Semoga nasibnya tidak seperti baju yang sering dipakai sehingga warnanya memudar dan kita tinggalkan. “

 

Seperti itulah gambaran dari gawatnya unggah-ungguh kita. Unggah-ungguh yang dimiliki peserta didik kita berada dalam keadaan gawat dan diri kita sendiri sebagai pendidik berada pada saat yang “KRITIS”.

Apa penyebabnya?

Mengulas saat yang telah berlalu, saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar dulu. Hampir 13 tahun yang lalu mata pelajaran tata karma masih diajarkan di bangku SD, masih membekas ketika diajarkan bagaimana unggah-ungguhnya meletakkan sendok setelah makan, meletakkan gayung setelah kita gunakan dan bagaimana atau apa yang harus kita lakukan ketika kita naik kendaraan (motor, sepeda) mendahului atau melewati orang lain.

Tapi kini??? Tak jarang kita menjumpai orang yang enggan untuk menyapa atau sekedar mengucapakan “kulo rumiyiin, nggih!” atau bahasa ungkapan permisi lainnya “monggo” atau kalimat-kalimat sejenisnya.

Siapa yang pantas kita salahkan?

Orang tuakah yang mendidik mereka di rumah? Lingkungan dimana mereka berbaur? Guru mereka? Atau kurikulum yang mengintegrasikan mata pelajaran tata karma? Atau pribadi-pribadi itu sendiri?

Jawabnya ???????

Banyak asumsi, sehingga kita hanya akan mendapatkan jawaban komplek ketika kita mengajukan pertanyaan “siapa yang salah?” bahkan bukan hanya jawaban komplek yang akan kita dapatkan, tapi akan bermunculan kambing hitam-kambing hitam di atas jawaban pertanyaan yang diajukan.

Tahun Pelajaran 2013/2014 sudah di depan  mata, dan kurikulum perekat bangsa akan segera diimplementasikan. Mata pelajaran IPA, IPS, Bahasa Inggris, Bahasa Daerah (Bahasa Jawa) di Sekolah Dasar akan diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran.

Lalu bagaimana nasib Mutiara yang Hilang???

Di tengah pembelajaran tata karma yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Bahasa Daerah yang diajarkan di Sekolah yang lalu masih belum mampu mengentaskan Mutiara yang hilang kembali ke peraduannya.

Lalu bagaimana setelah kurikulum perekat bangsa ini diimplementasikan? Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Memulai dari diri kita, keluarga kita, anak-anak kita, lingkungan kita, masyarakat kita, siapkan diri untuk mengembalikan Mutiara itu ke dalam hati kita.

 

 


[1]) staff.uny.ac.id/sites/…./MENGAJARKAN%20UNGGAHUNGGUH.doc

2 thoughts on “unggah-ungguh, tata krama, sopan-santun, peserta didik, guru, mutiara yang hilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s