unggah-ungguh, tata krama, sopan-santun, peserta didik, guru, mutiara yang hilang

pitajepang

Mutiara yang hilang di tengah pro-kontra kurikulum perekat bangsa

Oleh Nur Endah Puspita Arum

 

“Adisumarto menyatakan bahwa “unggah-ungguh bahasa Jawa adalah adat sopan santun, etika, tatasusila, dan tata krama berbahasa Jawa.” Berdasarkan pengertian tersebut nampak bahwa unggah-ungguh bahasa Jawa atau sering disebut tingkat tutur atau undha usuk basa tidak hanya terbatas pada tingkat kesopanan bertutur (bahasa Jawa ragam krama dan ngoko) saja, namun di dalamnya juga terdapat konsep sopan santun bertingkah laku atau bersikap. “[1])

 

 

“Tragis bukan main kisahnya jika tidak hanya didengar tapi benar-benar dirasakan. Semoga nasibnya tidak seperti baju yang sering dipakai sehingga warnanya memudar dan kita tinggalkan. “

 

Seperti itulah gambaran dari gawatnya unggah-ungguh kita. Unggah-ungguh yang dimiliki peserta didik kita berada dalam keadaan gawat dan diri kita sendiri sebagai pendidik berada pada saat yang “KRITIS”.

Apa penyebabnya?

Mengulas saat yang telah berlalu, saat masih duduk di bangku Sekolah…

View original post 267 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s